Make your own free website on Tripod.com

TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Peningkatan Kualitas Guru

Home
Teknologi Pendidikan oleh Benni I
APA ITU SIKADU???? By M Taufiq H
profil's anggota
About UNNES by Nurohman
Pengertian Teknologi Pendidikan By DANANG
peningkatan kualitas guru
Sejarah perkembangan definisi Teknologi Pendidikan By DANANG
MODEL PEMBELAJARAN
Komputer dan pendidikan
kurtekdik by Nurohman
Pelatihan Internet by Nurohman
phising by M Akris L

Teknologi pendidikan merupakan suatu disiplin terapan, artinya ia berkembang karena adanya kebutuhan di lapangan, yaitu kebutuhan untuk belajar – belajar lebih efektif, lebih efisien, lebih banyak, lebih luas, lebih cepat dan sebagainya. Untuk itu ada produk yang sengaja dbuat dan ada yang ditemukan dan dimanfaatkan. Namun perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat pesat akhir-akhir ini dan menawarkan sejumlah kemungkinan yang semula tidak terbayangkan, telah membalik cara berpikir kita dengan “bagaimana mengambil manfaat teknologi tersebut untuk mengatasi masalah belajar.

Dalam lingkungan pendidikan sekolah penerapan teknologi pendidikan pada awalnya disebut dengan istilah ”didaktik dan metodik”. Namun karena masalah belajar tidak hanya dalam di lingkungan sekolah, melainkan dimana saja, mengenai apa saja, dari dan oleh siapa saja, dengan cara apa saja, maka lahirlah teknologi pendidikan. Pada awal perkembangan sekitar ratusan tahun yang lalu teknologi itu dikenal sebagai cara mengajar dengan menggunakan alat peraga hasil buatan sendiri oleh guru di sekolah. Tigapuluh tahun kemudian (sekitar th. 1930) penggunaan alat peraga itu berkembang dengan diproduksinya secara massal media belajar-pengajaran untuk digunakan di sekolah secara meluas.

Penerapan teknologi pendidikan untruk memecahkan masalah belajar dapat berlangsung secara mikro maupun makro. Secara mikro apabila masalah belajar iitu ada dalam lingkungan terbatas misalnya dalam kelas atau sekolah. Proses pembelajaran yang dikembangkan oleh guru dalam kelas, merupakan penerapan teknologi pendidikan secara mikro. Sedangkan secara makro adalah pemecahan masalah belajar secara menyeluruh, yaitu yang meliputi semua komponen dan karena itu merupakan sistem.:Berbagai bentuk satuan pendidikan seperti SMP Terbuka, Program KEJAR Paket A,B dan C, Universitas Terbuka dll. Merupakan penerapan teknologi pendidikan secara makro.

Proses pembelajaran seperti yang ditetapkan dengan ketentuan kebijakan (PP No. 19 Tahun 2005 dan Permendiknas No. 41 Tahun 2007), pada hakekatnya merupakan bentuk penerapan teknologi pendidikan. Istilag “teknologi pendidikan” memang tidak digunakan atau tidak tampak, karena memang salah satu kriteria teknologi pendidikan adalah “integratif”. Ragi yang digunakan dalam pembuatan roti misalnya, tidak akan tampak setelah roti itu masak karena sudah terintegrasi dalam adonan yang dipanggang.

Pembelajaran aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar harus merupakan suatu proses aktif dari siswa dalam membangun pengetahuannya, bukan hanya proses pasif yang hanya menerima penjelasan dari guru tentang pengetahuan. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Vygotsky bahwa ada keterkaitan antara bahasa dan pikiran.1 Dengan aktif berbicara (diskusi) siswa lebih mengerti konsep atau materi yang dipelajari. Siswa perlu keterlibatan fisik untuk mencegah mereka dari kelelahan dan kebosanan. Siswa yang lebih banyak duduk diam akan menghambat perkembangan motorik, akademik, dan kreativitasnya. Melalui belajar aktif segala potensi siswa dapat berkembang secara optimal dan memberikan peluang siswa untuk aktif berbuat sesuatu sambil sambil mempelajari berbagai pengetahuan. Oleh karena itu, proses belajar harus melibatkan semua aspek kepribadian manusia, yaitu mulai dari aspek yang berhubungan dengan pikiran, perasaan, bahasa tubuh, pengetahuan, sikap, dan keyakinan.

Pada proses pembelajaran interaktif, perlu diusahakan adanya hubungan timbal balik antara guru dan siswa dan antar siswa sendiri. Proses pembelajaran inspiratif yang diselenggarakan hendaknya dapat mendorong semangat untuk belajar dan timbulnya inspirasi pada peserta didik untuk memunculkan ide baru, mengembangkan inisiatif dan kreativitas. Pendidik perlu berusaha menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan, menjadikan siswa merasa nyaman, betah, dan asyik untuk mengikutinya. Proses pembelajaran juga diusahakan agar dapat mengarahkan siswa untuk mencari pemecahan masalah, mengembangkan semangat tidak mudah menyerah, melakukan percobaan untuk menjawab keingintahuannya. Proses pembelajaran harus dapat memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, guru perlu mendorong siswa untuk terlibat dalam setiap peristiwa belajar yang sedang dilakukan. Guru juga harus memberikan ruang lingkup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat, dan perkembangan fisik dan psikologis peserta didik.

Selanjutnya, pembelajaran kreatif artinya memiliki daya cipta, memiliki kemampuan untuk berkreasi. Peran aktif siswa dalam proses pembelajaran akan menghasilkan generasi yang kreatif, artinya generasi yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain.2 Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan-kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menurut Semiawan, kreativitas adalah suatu kondisi, sikap, atau keadaan yang sangat khusus sifatnya dan hampir tak mungkin dirumuskan secara tuntas.3 Daya kreatif tumbuh dalam diri seseorang dan merupakan pengalaman yang paling mendalam dan unik bagi seseorang. Untuk menimbulkan daya kreatif tersebut diperlukan suasana yang kondusif yang menggambarkan kemungkinan tumbuhnya daya tersebut. Suasana kondusif yang dimaksud adalah suasana belajar yang memberi kesempatan siswa untuk terlibat secara aktif dan memberi kesempatan pada siswa untuk dapat mengemukakan gagasan dan ide tanpa takut disalahkan oleh guru.

Adapun pembelajaran yang efektif terujud karena pembelajaran yang dilaksanakan dapat menumbuhkan daya kreatif bagi siswa sehingga dapat membekali siswa dengan berbagai kemampuan. Setelah proses pembelajaran berlangsung, kemampuan yang diperoleh siswa tidak hanya berupa pengetahuan yang bersifat verbalisme namun dharapkan berupa kemampuan yang lebih bermakna. Artinya pembelajaran dapat mengembangkan berbagai potensi yang ada dalam diri siswa sehingga menghasilkan kemampuan yang beragam.

Belajar yang efektif dapat dicapai dengan tindakan nyata (learning by doing) dan untuk siswa kelas rendah SD dapat dikemas dengan bermain. Bermain dan bereksplorasi dapat membantu perkembangan otak, berbahasa, bernalar, dan bersosialisasi. Pembelajaran yang menyenangkan memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif yang tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa selama proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tidak ubahnya seperti bermain biasa. Kelas yang sunyi, anak sebagai pendengar pasif, tidak ada aktivitas konkret, membosankan dan belajar tidak efektif menyebabkan tidak kritis, tidak kreatif, komunikasi buruk, dan apatis.

Berdasarkan uraian di atas dapat dideskripsikan bahwa penerapan teknologi pendidikan dalam proses pembelajaran berlangsung secara aktif, interaktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM), siswa terlibat dalam berbagai bentuk kegiatan belajar dan pembelajarabn yang dapat mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka melalui berbuat atau melakukan dan mencipta. Dalam pembelajaran tersebut, guru menggunakan berbagai teknik dan sumber belajar.

Purnakata
Perspektif teknologi pendidikan dalam rangka meningkatkan kualifikasi guru telah, sedang, dan akan terus dikembangkan. Ke enam kriteria teknologi pendidikan isomeristik, sitemik, sinergistik, sistematik, inovatif dan integratif telah mulai terwujut dalam sistem pendidikan nasional, dimana guru merupakan unsur strategik dalam usaha peningkatan mutu sistem pendidikan tersebut.
Dalam dunia pendidikan teknologi sebagai proses, produk dan sistem yang dikembangkan untuk mengatasi masalah pendidikan, yaitu masalah mutu, pemerataan, relevansi, efisiensi dan produktivitas, telah dikembangkan sebagai suatu disiplin keilmuan khusus. Teknologi pendidikan dikembangkan dengan dua dasar pertimbangan. Pertama, karena masalah pendidikan yang ada (mutu, pemerataan, relevansi, efisiensi dan produktivitas) tidak dapat dipecahkan dengan pendekatan yang sudah ada (seperti menambah guru, menambah buku, menambah sekolah dll.). Oleh karena itu diperlukan pendekatan baru. Kedua, perkembangan lingkungan, termasuk perkembangan politik (demokrasi, desentralisasi, HAM dll), perkembangan lingkungan alam dan ekonomi (pasar bebas, pelestarian alam dsb.), dan perkembangan teknologi (terutama TIK) akan sangat mempengaruhi dunia pendidikan. Oleh karena itu diperlukan suatu pendekatan baru yang mengambil manfaat dari perkembangan yang ada.
Teknologi pendidikan dapat pula dikatakan sebagai perkembangan yang logis dan rasional dari apa yang semula disebut dengan ”didaktik & metodik pengajaran” yang dilaksanakan pada jalur pendidikan formal jenjang dasar dan menengah. Didaktik & metodik hanya merupakan sebagian dari proses belajar – pembelajaran. Proses pembelajaran yang dikembangkan dalam Teknologi Pendidikan, tidak hanya PAKEM melainkan PAIKEM dan PAINO (Pembelajaran Aktif, Interaktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan, dan Pembelajaran Atraktif, dan Inovatif).
Produk untuk pembelajaran yang semula hasil kreasi guru sendiri, perlu dikembangkan lebih lanjut sebagai bentuk dukungan untuk belajar (bukan untuk mengajar). Progam televisi, radio, PBK (pembelajaran berbantuan komputer) dll. perlu disediakan dalam berbagai bentuk untuk dapat diakses oleh peserta didik kapan saja, dimana saja di kelas maupu secara mandiri. Sistem pembelajaranpun dikembangkan di luar lingkungan sekolah konvensional, seperti misalnya pendidikan terbuka (SMP/MTs Terbuka, SMU Terbuka, Universitas Terbuka, Kejar Paket A, B dan C, Pendidikan di Rumah (homeschooling), dan BEBAS (Belajar Berbasis Aneka Sumber).
Teknologi pendidikan mempunyai visi : ”Terwujudnya berbagai pola pendidikan dan pembelajaran dengan dikembangkan dan dimanfaatkannya aneka sumber, proses dan sistem belajar, sesuai dengan kebutuhan dan potensi setiap pemelajar, menuju terbentuknya masyarakat belajar dan berpengetahuan.”
Apabila para guru bertekad untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan meningkatkan kompetensinya dalam pembelajaran, maka sudah seyogyanya mereka memahami dan mewujudkan peran teknologi pendidikan.




Daftar Pustaka
Cowell, Richard N. Buku Pegangan Para Penulis Paket Belajar. Jakarta: Proyek Pengembangan Pendidikan Tenaga Kependidikan, Depdikbud, 1988.
Departemen Pendidikan Nasional. Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta, 2005
Elliot, Andrew J. and Carol S. Dweck. Handbook of Competence and Motivation. New
York: The Gulford Press, 2005.
Ibrahim, Buddy. TQM (Total Quality Management): Panduan Untuk Menghadapi Persaingan Global. Jakarta: Djambatan, 2000.
Jenkins, L. Improving Student Learning: Applying Deming Quality Principles in Education. Milwakee,WI: ASQO Press. !996
Lefrancois, Guy R. Theories of Human Learning. Kro: Kros Report, 1995.
Miarso,Yusufhadi. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Pustekkom & Kencana. 2005
Rychen, Dominique Simon. Key Competencies. New York: Mc Graw Hill, 2002.
Semiawan, Conny R. Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 1999.
Silberman, Mel. Active Learning: Strategies to Teach Any Subject. Boston: Allyn and Bacon, 1996.
Usman, Uzer. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1990.
Vygotsky, L.S. Thought and Language. Cambridge, MA: Harvard University Press, 1962

Halaman

1

2

3

da.jpg