Make your own free website on Tripod.com

Blog Tools
Edit your Blog
Build a Blog
RSS Feed
View Profile
« October 2018 »
S M T W T F S
1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31
You are not logged in. Log in
Entries by Topic
All topics  «
anything
edu-center
Saturday, 24 November 2007
education center
Mood:  happy
Now Playing: yes
Topic: anything

A. HAKEKAT PENDIDIKAN

  • MAKRO ( KLAUSMIRE BUKUNYA “FOUNDATION OF EDUCATION”)

Pendidikan adalah pertumbuhan dan perkembangan individu kearah positif. Individu itu berinteraksi lingkungan (fisik, sosial ataupun keduanya).

Manusia memiliki 3 human spirit ( Lost Fyier).

Human ability (potensi) belum nyata.

Pendidikan berusaha mengembangkan potensi:

  • Kognitif (Cognitive)

  • Afektif (sikap daya penghayatan)

  • Psikomotorik (Pschomotoric) Gerak, menulis, bicara

  • MIKRO (LANGEVELD)

  • Pendidikan terjadi dalam pergaulan

  • Pendidikan adalah bantuan yang diberikan kepada anak yang belum dewasa ke arah dewasa (mandiri)

  • Pendidikan adalah belajar (perubahan perilaku oleh pengalaman) Proses mengalami (interaksi mempunyai pengalaman dari tidak terampil menjadi terampil)

  • Proses terjadi setelah mengenal gesag (wibawa)

(Prof. Dr. DIANTORO)

  • Pendidikan adalah memanusiakan manusia muda.

(THOMSON)

  • Pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan ang tetap di dalam kebiasaan tingkah laku, pikiran, sikapnya.

(COEN CROW)

  • The function of education must make skills. ( fungsi dari pendidikan seharusnya pembentukkan keterampilan usaha mewujudkan kebutuhan).

KESIMPULAN

  • HAKEKAT PENDIDIKAN BANTUAN YANG DIPENGARUHI KEBIASAAN TERJADI DALAM PERGAULAN, TUJUAN AKHIRNYA MANDIRI (SUSILA), GURU HARUS MEMILIKI GESAG (KEWIBAWAAN).


EKSISTENSI ILMU PENDIDIKAN


  1. Pendidikan memerlukan individu (untuk mengembangkan potensi )

  2. Pendidikan perlu negara (karena memiliki generasi muda)

  3. Ilmu itu sendiri harus kuat

SYARAT ILMU

  1. Punya objek kajian

  2. Ada metode

  3. Sistematika

  4. Kebenaran bersifat universal

  5. Menggunakan kajian filsafat (Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi).


FUNGSI ILMU


  1. Explanation (Penjelasan)

  2. Prediction (Ramalan Ilmiah)

  3. Controll (Mengatur, Mengendalikan)


ILMU PENDIDIKAN

  1. Objek kajian

Perbuatan-perbuatan pendidikan beserta efek-efek dari perbuatan.

  1. Metode mencari kebenaran/ Sistematika

Contoh. Kebenaran orangtua tidak memperhatikan anak , maka anak akan terkena narkoba berdasarkan stud deskriptif (pengalaman), intuisi(kebenaran melompat).

ILMU PENDIDIKAN TETAP EXIST KARENA :

  1. Bayi lahir penuh potensi untuk berkembang.

  2. Memanusiakan manusia muda

  3. Manusia perlu ilmu pendidikan untuk mengembangkan mental dan jasmani

  4. Menjadikan manusia yang beradab.


TEORI

STRUKTUR BATANG TUBUH ILMU PENDIDIKAN

  1. Ada tujuan pendidikan

  • Tujuan umum (sempurna) ; Menjadi manusia dewasa susila dan bertanggung jawab

  • Tujuan khusus (sementara ) : Anak menjadi terampil, sopan santun.

  1. Faktor Pendidikan

  • Subyek Belajar

  • Kwibawaan/ Normatif

  • Kasih sayang

  • Guru

  • Kurikulum

  • Lingkungan

  • Alat Pendidikan

FUNGSI ILMU PENDIDIKAN


  1. Explanation (Menjelaskan)

Ada fenomena diterangkan/dijelaskan oleh ilmu. Cth : sakit panas-flu

  1. Prediction (Ramalan)

Meramal apa yang terjadi/mungkin terjadi berdasarkan kebiasaan (mendukung). Cth : Anak yang malas-sebagian besar akan tidak naik kelas. Menurut fakta-fakta dan kesimpulan. Kebenaran ilmu untuk memprediksi : mendung-akan turun hujan

  1. Controll

Mencegah apa yang terjadi kemungkinan yang jelek/yang tidak diinginkan, mendorong terjadi yang dinginkan. Cth : Anak pergi malam-orangtua harus melarang karena akan melakukan hal yang jelek.


METODE MENCARI KEBENARAN ILMU PENDIDIKAN

  1. Intuisi (non Ilmiah)

Benar karena melompat dari langkah-langkah yang ilmiah, perenungan yang mendalam, tidak bias menjelaskan

  1. Trial and Error

Metode yang jelek, mencoba gagal dan mencoba lagi.

  1. Authority (Otoritas orang ahli). Cth : Ekonomi, Pak Mitro adalah ahli ekonomi dia bias dimintai pendapatnya mengenai makro ekonomi.

  2. Metode ILmiah

    1. Penelitian : suatu kegiatan yang sistematis (urut) dan tiap langkah dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

    2. Masalah/ Problematik : Anak malas berakibat tidak naik kelas

    3. Tujuan/ Hipotesis : Saya duga anak malalas itu bodoh

    4. Sample, data ,fakta : Anak-anak malas dikumpulkan lalu didata dilihat kebenarannya hipotesis 100 orang—95 % benar

    5. Thesis/ Kesimpulan : Anak malas memang benar tidak naik kelas.


ISI ILMU

  • KONSEP (STATEMENT)-Istilah-istilah yang punya arti. Anak yang malas berakibat bodoh (p<0.01). p=probabita , anak malas : tidak mau belajar, tidak mau bekerja (indicator), anak bodoh = nilainya jelek.

  • KONSEP yang digabung mempunya makna- Preposisi

  • Teori

Teori Hukuman :

  •  
    • Teori hokum alam (J.J Rousseau)

Agar anak yang melakukan salah supaya dia sadar (kapok) menghukum anak dengan akibatnya sendiri. Bermain pisau dibiarkan jika terkena sendiri itulah hukuman.

  •  
    • Teori hukuman badan

    • Teori Penyadaran

Berbuat salah dipanggil , mengapa berbuat salah lalu diberi hukuman

  • Prinsip-prinsip.



CABANG-CABANG ILMU PENDIDIKAN


  •  
    •  
      • Berhubungan dengan menyusun materi pelajaran ( Pengembangan Kurikulum)

      • Bagaimana Belajar Mengajar yang baik dan efektif (Teknologi Pembelajaran)

      • Manajeman Pendidian

      • Media Pendidikan

      • Pendidikan Usia Dini (2-5)

      • Pendidikan Orang Dewasa

      • Pendidikan Luar Skolah

      • Administrasi Pendidikan

      • Bimbingan dan Konseling


ILMU PENDIDIKAN SEBAGAI PEDAGOGIK (CABANG-CABANGNYA)

  1. Didaktik (Teori Pembelajaran)

  2. Metode Mengajar

  3. Kurikulum

  4. Evaluasi Pendidikan

  5. Bimbingan Konseling

ILMU BERKEMBANG PESAT KARENA :


  • Penelitian

  • Seminar ( Panelis mengemukakan suatu hasil/gagasan/ide berupa hasil kajian (penelitian). Yang lain sebagai penggagas-pengkritik, tidak harus persetujuan, ada diskusi ,tidak disimpulkan.

  • Workshop (Seminar yang disimpulkan dan hasilnya dimanfaatkan

  • Konsorsium (Kedokteran).

Seminat membahas kasus yang jelas, ilmu-ulmu yang terakhir dan terbaru.


Mengapa Ilmu dapat berkembang dengan pesat:

  1. Sering digunakan karena masalahnya sering dialami.

  2. Ilmu itu tidak bias ditunda.

  3. Efek dari ilmu lebih jelas (kedokteran, sakit disuntik efeknya jelas bias sembuh. Pendidikan Orang tua tahu kalau tidak neneprhatikan ank akan berdampak negative, tetapi orang tua nasih melanggar)

  4. Sering Penelitian.




Selama ini, program layanan pendidikan bagi anak berbakat umumnya diberikan dalam bentuk program pengayaan dan atau percepatan. Program pengayaan merujuk pada pengayaan kurikulum dan pengalaman pendidikan bagi anak berbakat. Modifikasi atau penambahan kurikulum tersebut tentu saja harus didasarkan pada karakteristik pe-serta didik. Kendati demikian, ada satu kelemahan yang muncul dari program pengayaan itu. Selama jam belajar di sekolah, anak berbakat menghabiskan waktu belajarnya di dalam kelas untuk mengikuti pelajaran yang sudah diran-cang secara umum. Karena mereka mampu menguasai materi lebih cepat dari teman-temannya; mereka akan mudah mengalami kejenuhan. Pasalnya, mereka terpaksa harus mempelajari keterampilan dan pengetahuan yang sudah mereka kuasai. Sebagian dari mereka sering berpura-pura sakit atau membuat alasan untuk menghindari kegiatan yang membosankan itu. Lebih buruk lagi, mereka sering meninggalkan kelas dan bahkan ada yang menjadi putus sekolah. Bahkan penelitian Renzully dan Park (2000) atas 334 anak berbakat yang putus sekolah menunjukkan bahwa alasan terbanyak mereka meninggalkan sekolah adalah karena tidak menyukai sekolah.

Di Indonesia, hingga akhir tahun pelajaran 2002/2003, dilaksanakan program percepatan bagi anak berbakat Program percepatan itu merujuk pada penyampaian kurikulum dan layanan pendidikan yang dipercepat dari jadwal pembelajaran standar. Jenis program percepatan yang dilaksanakan di Indonesia adalah percepatan semua mata pelajaran melalui kelas khusus. Dengan cara ini, siswa akseleran belajar bersama dengan siswa akseleran lain dalam satu kelas, dan menyelesaikan program pendidikan satu tahun lebih cepat dari pada masa belajar sekolah biasa. Misalnya, siswa SMP dan SMA menyelesaikan program pendidikannya dalam dua tahun.

Namun demikian, akibat dari program percepatan tersebut, siswa akseleran secara fisik (dari segi kelas) dan pembelajaran, terpisah dari kebanyakan siswa, sehingga tidak ada interaksi anta-ra siswa akseleran dan siswa bukan akseleran selama proses pembelajaran, apalagi pembelajaran sesama teman (
peer teaching). Dengan kata lain, sis-tem pembelajaran menjadi segregatif atau terpisah dari sistem pembelajaran umum.



Pengajaran Berdiferensiasi


Untuk mengakomodasi kelemahan-kelemahan dalam program pendidikan untuk anak berbakat yang dilakukan melalui program pengayaan atau percepatan penuh, telah dikembangkan pendekatan pengajaran yang disebut pengajaran berdiferensiasi (
differentiated instruction). Pendekatan ini menghendaki agar kebutuhan pendidikan siswa berbakat dilayani di dalam kelas reguler. Program ini menawarkan serangkaian pilihan belajar pada siswa berbakat dengan tujuan menggali dan mengarahkan pengajaran pada tingkat kesiapan, minat, dan profil belajar yang berbeda-beda. Dalam pengajaran berdiferensiasi ini, guru menggunakan: (a) beragam cara agar siswa dapat me-ngeksplorasi isi kurikulum, (b) beragam kegiatan atau proses yang masuk akal sehingga siswa dapat mengerti dan me-miliki informasi dan ide, serta (c) beragam pilihan di mana siswa dapat men-demonstrasikan apa yang telah mereka pelajari (Tomlinson, 1995).

Pengajaran berdiferensiasi tidak berarti memberikan tugas yang sama pada seluruh siswa dan melakukan penyesuaian untuk siswa berbakat dengan membedakan tingkat kesulitan pertanyaan, memberikan tugas yang lebih sulit pada mereka, atau membiarkan siswa berbakat menyelesaikan program regulernya kemudian bebas mengerjakan permainan sebagai pengayaan. Pengajaran ini juga tidak berarti memberikan lebih banyak tugas, misalnya soal matematika, pada siswa yang telah menguasai materi pelajaran tersebut. Sebaliknya, pengajaran berdiferensiasi ditandai oleh empat karakteristk umum, yaitu:

  1. Pengajaran berfokus pada konsep dan prinsip pokok materi pelajaran. Dalam hal ini, semua siswa mengeksplorasi konsep-konsep pokok bahan ajar. Dengan cara seperti ini, semua siswa, termasuk siswa yang agak lambat (struggling learners) bisa memahami dan menggunakan ide-ide dari konsep yang diajarkan. Pada saat yang sama, siswa berbakat memperluas pemahaman dan aplikasi konsep pokok tersebut. Pengajaran lebih menekankan siswa untuk memahami materi pelajaran dan bukannya menghapal serpihan-serpihan informasi. Pengajaran berbasis konsep dan prinsip mendorong guru untuk memberikan beragam pilihan
    dalam belajar.

  2. Evaluasi kesiapan dan perkembangan belajar siswa diakomodasi ke dalam kurikulum. Hal ini mengisyaratkan bahwa tidak semua siswa memerlukan satu kegiatan atau bagian tertentu dari proses pembelajaran secara sama. Guru perlu terus menerus mengevaluasi kesiapan dan minat siswa dengan memberi kan dukungan bila siswa membutuhkan interaksi dan bimbingan tambahan, serta memperluas eksplorasi siswa terutama bagi mereka yang sudah siap untuk mendapatkan pengalaman belajar yang lebih menantang.

  3. Ada pengelompokan siswa secara fleksibel. Dalam pengajaran berdi ferensiasi, siswa berbakat sering belajar dengan banyak pola, seperti belajar sendiri-sendiri, belajar berpasangan, maupun belajar dalam kelompok. Kadang-kadang tugas juga perlu dirancang berdasarkan tingkat kesiapan siswa, minat, gaya sebelajar siswa maupun kombinasi antara tingkat kesiapan, minat, dan gaya belajar. Cara belajar linier dan klasik juga digunakan untuk mengajarkan ide baru.

  4. Siswa menjadi penjelajah aktif (active explorer). Tugas guru adalah membimbing eksplorasi tersebut. Karena beragam kegiatan dapat ter-jadi secara simultan di dalam kelas, guru akan berperan sebagai pem-bimbing dan fasilitator, dan bukannya sebagai dispenser informasi.



Strategi Pengajaran Berdiferensiasi


Dalam mendiferensiasikan pengajaran, guru bisa melakukan modifikasi terhadap lima unsur kegiatan mengajar, yaitu materi pelajaran, proses, produk, lingkungan dan evaluasi (Howard, 1999; Weinbrenner, 2001)

1. Materi Pelajaran

Dalam proses pembelajaran, guru harus bertanggung jawab untuk memastikan bahwa semua siswa mempelajari materi pelajaran dalam kurikulum yang harus dikuasai siswa. Namun, guru tidak harus mengajarkan materi pelajaran tersebut pada semua siswa. Artinya, siswa yang telah menguasai kompetensi atau bahan ajar tertentu boleh mengu-rangi waktu yang diperlukan untuk menguasai kompetensi dan bahan ajar itu. Mereka boleh meloncatinya. Materi pelajaran dapat dimodifikasi melalui berbagai kegiatan pembelajaran, antara lain:

Pemadatan materi pelajaran, yaitu sebuah strategi untuk merampingkan waktu yang dihabiskan siswa untuk menyelesaikan kurikulum reguler. Dalam memadatkan materi pelajaran, guru harus menentukan kompentensi atau bahan ajar apa yang telah dikuasai siswa dan apa yang masih harus dipelajarinya, dan kemudian menggantikan kompetensi atau bahan ajar yang telah dikuasai tersebut dengan materi lain yang lebih menantang. Untuk itu, guru harus mempertimbangkan minat siswa karena siswa dituntut untuk menunjukkan komitmen, tanggung jawab dan kemandirian dalam melakukan tugas menantang. Misalnya, Rini selalu memperoleh nilai tinggi dalam mata pelajaran matematika. Pak Didin, guru matematika, memutuskan untuk memberikan pre-test pada Rini sebelum melanjutkan ke pokok bahasan atau unit berikutnya. Hasil tes menunjukkan bahwa Rini menjawab 90 persen dari tes tersebut. Artinya, Rini menguasai kurang lebih 90 persen bahan ajar yang belum diajarkan. Dalam hal ini, Pak Didin mena-warkan pada Rini untuk mengurangi waktu yang diperlukan untuk mempelajari pokok bahasan atau unit berikutnya. Pak Didin juga menyesuaikan pengajaran matematika sesuai dengan kecepatan belajar Rini. Selama jam pelajaran matematika, Rini akan me-ngerjakan tugas-tugas lain sementara siswa-siswa lainnya menyelesaikan tugas reguler dalam mata pelajaran matematika.

Setidaknya ada delapan langkah untuk memadatkan materi pelajaran, yaitu: (1) Tentukan tujuan pembelajaran pada materi yang akan diajarkan; (2) Cari cara yang sesuai untuk mengevaluasi tujuan pembe-lajaran tersebut; (3) Identifikasi siswa yang mungkin telah menguasai tujuan (atau dapat menguasainya dengan lebih cepat); (4) Evaluasi siswa-siswa tersebut untuk menen-tukan tingkat penguasaan; (5) Kurangi waktu yang diperlukan siswa untuk mempelajari materi yang telah dikuasai; (6) Berikan pengajaran pada sekelompok kecil atau siswa secara individu, yang belum menguasai tujuan pembelajaran di atas, tetapi dapat menguasainya lebih cepat dari teman-teman lainnya; (7) Dokumentasikan kegia-tan belajar pengganti yang lebih menantang, yang sesuai dengan minat siswa; (8) Dokumentasikan proses pemadatan dan opsi pembelajaran.

Studi intradisiplin, yailu studi atas satu tema atau topik dengan melibatkan mata pelajaran lain yang relevan. Guru mata pelajaran yang ingin memodifikasi topik atau tema tertentu dari materi pelajaran, dapat bekerjasama dengan guru mata pelajaran yang lain yang relevan. Selanjutnya, mereka dapat mengeksplorasi bentuk kegiatan pembelajaran yang mungkin dilakukan. Kajian mendalam. Cara ini bisa dila kukan oleh siswa berbakat bila mereka sudah siap dengan pengeta-
huan, kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan, waktu dan enerji yang dibutuhkan untuk tugas ini. Minat siswa pada suatu topik merupakan penentu utama dari ke-mauan untuk mengeksplorasi topik itu secara mendalam.

2. Proses

Banyak kegiatan yang bisa dilakukan oleh guru untuk memodifikasi proses pengajaran dan pembelajaran, antara lain dengan:

  • Mengembangkan kecakapan berpikir. Siswa berbakat perlu untuk mengembangkan kecakapan berpikir analitis, organisasional, kritis dan kreatif. Guru dapat mengajarkan secara langsung kecakapan ini, atau memadukannya dalam materi pelajaran. Kecakapan berpikir juga bisa dikembangkan melalui teknik bertanya.

  • Hubungan dalam dan lintas disiplin. Untuk itu, siswa berbakat memerlukan kecakapan berpikir tingkat tinggi, terutama kemampuan menganalisis, menyintesis, mengaplikasi dan mengevaluasi. Siswa berbakat dianggap siap untuk belajar dengan kecakapan berpikir yang lebih tinggi bila mereka memiliki kecakapan untuk memecah satu ide atau konsep ke dalam bagian-bagian penting; mengatur kembali fakta-fakta, konsep dan ide ke dalam satu kombinasi baru; mengaplikasikan apa yang telah mereka kuasai dengan cara yang baru dan kreatif; danmenentukan nilai suatu ide.

  • Studi mandiri, merupakan alternatif lain dalam memodifikasi proses. Sebagian siswa berbakat senang bekerja sendiri, mulai dari menentukan topik yang menjadi fokus studi, menentukan cara dan waktu penyelesaian, menentukan sumber untuk melakukan studi hingga menentukan format produk akhir studi. Guru dapat memfasilitasi studi mandiri dengan cara mengelompokkan siswa berdasarkan minat yang sama. Bila seorang siswa benarbenar ingin lebih mendalami suatu topik, guru bisa menawarkan satu kontrak studi mandiri bagi siswa yang bersangkutan.


3. Produk

Dalam memodifikasi produk, guru dapat mendorong siswa untuk mende-monstrasikan apa yang telah dipelajari atau dikerjakan ke dalam beragam format yang mencerminkan pengetahuan maupun kemampuan untuk memanipulasi ide. Misalnya daripada meminta siswa untuk menambah jumlah halaman laporan dari suatu bab, guru bisa meminta siswa untuk menyintesis pengetahuan yang telah diperoleh. Guru juga bisa memberikan kesempatan pada siswa berbakat untuk menginvestigasi masalah riil yang terjadi di sekitarnya dan mempresentasikan solusinya. Misalnya, siswa diminta untuk menginvestigasi polusi dari emisi kendaraan atau polusi air kali, dan hasilnya bisa di-sampaikan pada instansi pemerintah atau swasta yang terkait.

4. Lingkungan Belajar

Iklim belajar di kelas merupakan faktor yang berpengaruh langsung pada gaya belajar dan minat siswa. Sikap guru lah yang sangat menentukan iklim di dalam kelas. Lingkungan belajar yang sesuai adalah yang mengandung kebe-basan memilih dalam satu displin; kesempatan untuk mempraktikkan krea-tivitas; interaksi kelompok; kemandirian dalam belajar; kompleksitas pemikiran; keterbukaan terhadap ide; mobilitas gerak; menerima opini; dan meren-tangkan belajar hingga keluar ruang kelas. Untuk itu, guru harus mampu membuat pilihan-pilihan yang sesuai mulai dari apa yang akan diajarkan, ba-gaimana mengajarkannya, materi dan sumber daya apa yang perlu disediakan hingga bagaimana mengevaluasi pertumbuhan belajar siswa.

5. Evaluasi

Memodifikasi evaluasi berarti menentukan suatu metode untuk mendokumentasikan penguasaan materi pelajaran pada siswa berbakat. Guru harus memastikan bahwa siswa berbakat memiliki kesempatan untuk mendemonstrasikan penguasaan materi pelajaran sebelumnya ketika akan mengajarkan pokok bahasan, topik, atau unit baru mata pelajaran. Guru juga harus mendorong mereka untuk mengembangkan rubrik atau metode lain untuk mengevaluasi proyek atau hasil studi mandiri mereka.



Kembali / Back



Posted by sutowijoyo at 10:03 AM EST
Post Comment | Permalink

Newer | Latest | Older